Rasio ya rasio. Moral ya moral. Tetapi kerapkali orang suka mencampuradukkan keduanya. Padahal keduanya seperti minyak dengan air. Keduanya tidak mungkin bisa bersatu.
Seorang kawan yang sesekali suka jajan di warung pojok membuat rasionalisasi. Apa yang dilakukan, kilahnya, adalah atas dasar suka sama suka, saling memuaskan jadi artinya juga saling menguntungkan. Tidak ada paksaan. Dan tidak ada yang merasa dieksploitasi atau mengeksploitasi. Jadi dia tidak merasa telah melakukan sesuatu yang salah secara moral. Ini adalah contoh rasionalisasi moral yang sangat jelas.
Contoh rasionalisasi moral kedua berikut ini. Dengan meningkatnya usia fisik dan usia perkawinan maka pelayanan isteri relatif semakin dingin. Cepat-cepat naik ke tempat tidur dan mengekspose punggungnya buat sang suami. Sinyalnya jelas: Noli me tangere. Jangan sentuh saya! "Perempuan bisa saja berpuasa atau memuasakan diri, terlebih bila sudah menopause. Sedangkan laki-laki kalau volume semen sudah penuh perlu outlet lain selain mimpi basah atau masturbasi. Kalau kesempatan ada dan uang ada kenapa menyiksa diri seperti pertapa yang suci dan bersikap munafik?" Inilah rasionalsiasi moralnya.
Kenapa rasionalisasi moral itu tidak dapat dibenarkan?
Rasio dipakai untuk hal-hal yang menganalisis (membedah) kebenaran ilmu pengetahuan. Tanpa itu ilmu pengetahuan pasti akan mandeg. Tetapi rasio fungsi utamanya bukan untuk menganalisis "kebenaran moral". Moral mempunyai domain sendiri. Mempunyai "logika moral" tersendiri. Mempunyai bench mark sendiri. Mempunyai kriteria sendiri.
Orang bukankah tidak mencampuradukkan cara merakit radio dengan cara merakit personality atau kepribadian? Apakah orang mencampuradukkan resep meracik obat dengan resep masakan? Keduanya mempunyai standar, SOP, dan standar keberhasilan yang berbeda-beda bukan?
Saya pernah menulis artikel “Empat Corak Berpikir Manusia”. Dalam Akademi Kehidupan ada 4 kelas (mungkin lebih). Kelas 1: kelas rasional. Kelas 2: kelas terminal. Kelas 3: kelas balancing. Kelas 4: kelas simfoni.
Pelaku rasionalisasi moral masih duduk di kelas 2. Ia belum lulus mata pelajaran moral di mana prinsip moral dasar itu sifatnya mutlak. Moral dasar itu tidak bisa dirasionalisasikan. Membunuh ya membunuh. Berzinah ya berzinah. Berzinah tidak bisa dirasionaliasikan dari mutlak menjadi bersifat kondisional.
Rasionalisasinya di mana? Pada kondisinya. Pada kondisi suka sama suka, tidak ada pihak yang menuntut balas jasa, tidak ada paksaan, maka (keliru) disimpulkan moralitas yang sifatnya mutlak dapat dijadikan relatif. Bahkan dapat dimarginalisasikan. Atau malahan justru menjadi dibenarkan. Ini namanya pembenaran terhadap sesuatu yang morally wrong. Apalagi namanya kalau bukan rasionalisasi moral?
Lalu harus bagaimana dong jalan keluarnya? Jadilah manusia konsekuen. Tuhan saja tidak dapat memaksa manusia tetap suci. Tuhan memberikan pilihan moral bagi manusia untuk berbuat sesuai atau berlawanan dengan moral dasar. Dengan kewajiban memikul segala konsekuensinya juga. Mau berzinah tidak ada yang dapat mencegah kalau pihak-pihak terlibat mau melakukannya. Mau berdosa, ya berdosa saja. Tetapi jangan bilang hal itu secara moral dibenarkan karena kondisi tertentu dapat membuatnya demikian.
Secara libido memang tak terelakkan karena adanya hukum tarik menarik antar lawan jenis. Dan kedua pihak menggiring diri ke arena yang kondusif karena adanya sikap diri yang permisif. Istilah awamnya: Memasukkan diri sendiri ke dalam pencobaan (yang akhirnya jadi tak terelakkan).
Strategi pencegahannya? Strateginya ialah jangan memasukkan diri ke dalam pencobaan dengan rasa percaya diri berlebih dan rasa memiliki keamanan yang semu.
Bahaya lain kelompok kelas dua ialah menjadi “moral swinger”. Kadang-kadang ia menjadi begitu suci tetapi di lain saat ia menjadi bangsat yang begitu berandal. Ah, itu bukankah manusiawi sekali? Manusia bukannya malaikat yang bisa suci terus. Malaikat tidak punya badan dan nafsu berahi tetapi manusia normal dan sehat lain lagi ceritanya. Kembali di sini kita jumpai rasionalisasi moral. Malaikat memang tidak punya godaan nafsu seksual karena ia tidak punya kelamin. Tetapi godaan malaikat jauh lebih dahsyat yaitu godaan kesombongan. Juga godaan untuk tidak mau takluk kepada siapapun, termasuk kepada Sang Pencipta.
Bila mampu menguasai diri untuk tidak menjadi “moral swinger” orang lalu naik kelas tiga. Bila ia merasa sudah “terlalu dekat” dengan suatu pencobaan maka ia secara sadar menyurutkan diri atau mundur dari “battle ground”. Celakanya, orang kalau orang merasa fully safe kemudian suka-suka mulai berkelana lagi ke kawasan “dangerous zone” dengan penuh rasa percaya diri yang palsu.
Bila mampu naik kelas dari kelas tiga ke kelas empat. Pada kelas empat orang mempunyai ketrampilan layaknya seorang dirigen orkestra. Seorang dirigen tahu kapan suatru kelompok pemain alat musik tertentu harus tampil atau harus surut.
Manusia kelas empat tahu kapan rasio harus dipakai. Yaitu saat mengejar atau mengasah ilmu pengetahuan. Ia tahu kapan moral harus dipakai. Moral dasar sifatnya mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar. Tidak bisa dijadikan relatif atau dimarginalkan. Tanpa mempertahankan moral dasar maka masyarakat akan hancur karena kehilangan batu-batu pijakannya.
Ia tahu bagaimana membuat peta situasi yang dihadapinya, di mana posisinya pada saat tertentu, dan tahu ke mana ia harus bergeser dalam rentang skala yang tersedia. Namun ia tidak pernah mengizinkan dirinya menjadi partisan dan masuk ke dalam suatu kelompok ekstrim tertentu. Entah itu ekstrim kiri maupun kanan. Ia mampu mengembangkan nilai toleransi yang tinggi yang didasarkan atas nilai kasih kepada sesama dan semua golongan. Tetapi dalam moral dasar ia tahu bahwa ia harus bersikap tegas, absolut, dan non-kompromistik. JS. ■